Koneksi Tersembunyi
Menggapai Bayang Ilusimu
Sangat hebat
Sosokmu hanya ilusiku
Fenomena Takbiran 2009
Idul Fitri terasa tak lengkap sebelum melalui malam takbiran. Di malam ini, salah satu(dari sekian banyak malam), doa-doa manusia akan dikabulkan. Menjadi pra klimaks kemenangan. Menyambut hari kemenangan, bertakbir, keliling kampung membuat arak-arakan. Mewujudkan rasa syukur telah menjalani puasa selama 30 hari. Menjalani sekian hari yang penuh godaan, berperang terhadap haus dan lapar. Puasa dari segala nafsu serta buruknya perilaku. Indahnya Ramadhan tak akan pernah dapat tersaingi oleh 11 bulan yang lain. Berkah segala berkah melimpah ruah.
Saat siang beramai-ramai mencari bambu. Membersihkan batangnya dari serbuk-serbuk cokelat yang bisa membuat kulit gatal. Dipotong, disumbat kain perca, lalu diguyur sedikit minyak tanah di lubang yang tersumbat. Sensasi proses persiapan yang menggembirakan. Malamnya selesai shalat isya' bergegas mengambil potongan bambu itu. Berbaris rapi bersama teman-teman mendengar instruksi guru ngaji. Menyalakan satu obor dengan korek api. lalu mentransfer nyala-nyala itu dari satu obor ke obor lain.
Arak-arakkan dimulai. Berjalan rapi, mengucapkan takbir memuji Tuhan dengan suara lantang. Jika cahaya obor itu mati, kembali meminta nyala api dari obor lain yang masih menyala. Itulah suasana takbiran yang terjadi beberapa tahun lalu. Yang saya nikmati bersama kawan-kawan.
Saat saya menghabiskan malam takbiran bersama seorang teman untuk berkeliling kota. Rupanya suasana yang saya alami ketika kecil telah hilang. Memang, setiap kejadian tak pernah sama. Masih ada yang berarak, tapi tak seriuh dulu. Mungkin zaman yang telah mengubah pola aktivitas manusia. Teknologi yang memudahkan interaksi. Dan evolusi kultur juga terjadi pada kebiasaan takbiran yang terjadi setahun sekali itu. Jika dulu saya mendapat kesenangan bertakbir dengan upah kaki pegal, karena harus berjalan keliling kampung. Sekarang, kebiasaan yang membuat kaki pegal, sudah bisa dihentikan. Arak-arakan yang memadati jalan masih bisa ditemukan, tetapi tak sebanyak dulu.
Kini, mobil-mobil pick up terisi manusia. Atau truk-truk besar yang biasa mengangkut pasir, batu, atau benda-benda mati lainnya. Dipenuhi manusia yang meneriakkan takbir. Yah, itulah fenomena takbiran masa kini. Bukan lagi kaki sebagai alat transportasi untuk berpawai. Tapi mesin-mesin pengkonsumsi bensin yang menggantikan. Suara beduk pun tak seramai dulu, digantikan dengan drum bekas minyak sebagai lalat musik. Bahkan ada pula kelompok takbir yang rela menggunakan drum ala Gilang Ramadhan sebagai subtitusi beduk. Serasa melihat konser musik keliling. Membuat saya takjub.
Iring-iringan kendaraan bagai pawai suporter sepak bola. Tak ada lagi obor yang di bawa. Speaker pengeras suara menjadi pelengkap, memamerkan bunyi pukulan-pukulan drum. Ramai. Tapi keramaian yang berbeda. Keramaian takbir ala pesta musik. Bukan perayaan takbir yang dihiasi paduan suara-suara merdu ucapan Allahhuakbar. Ucapan yang menyejukkan hati.
Perubahan budaya semoga tak mengubah esensi malam takbir
Patriarkal VS Matriarkal
Mungkin ini, mengenai persamaan hak di mana wanita dan pria dapat memasuki dunia yang sama. Pria bekerja, wanita pun bisa, Pria jadi kepala rumah tangga, wanita juga bisa melakukannya. Tapi, bagi saya wanita dan pria kan memang beda, kenapa harus disama-samakan?!.
Sungguh dasyatnya kutipan hadist itu, yang membuat saya semakin terpana bahwa seorang pria memiliki kekuatan besar untuk "menggengam" perempuan. Sistem patriarki, mau tak mau, yang berjalan. Dan di keyakinan manapun juga menyatakan hal yang sama, dengan bukti kemunculan feminisme yang diawali di dunia barat, di mana mayoritas penduduknya beragama Yahudi, Khatolik dlsb.
Kemudian Nabi ku pernah bersabda, ".....Sesungguhnya seandainya aku(boleh) menyuruh seseorang sujud kepada selain Allah, tentu akan aku suruh perempuan sujud kepada suaminya. demi Dzat yang diri Muhammad dalam kekuasaan-Nya, tidaklah seorang perempuan menunaikan hak Tuhannya, sehingga ia menunaikan hak suaminya, dan seandainya suaminya menghendaki dirinya, sedang ia di atas kendaraan, maka tidak boleh ia menolaknya."
Semakin terpatri dalam pikiran saya, bahwa memang patriarki yang dianut agama saya.
Feminisme muncul, ketika para perempuan lelah dengan apa yang menurut pencipta istilah itu mengalami ketertindasan. Tidak bisa melakukan ini, dianggap tak mampu untuk itu, seperti yang umumnya dilakukan para lelaki. Sebagian perempuan(yang berpaham feminis) menginginkan kesetaraan, keadilan, dan perlakuan yang sama. Mereka juga bisa bekerja, menghasilkan uang, mendidik anak, bahkan katanya perempuan kadang-kadang lebih bisa diandalkan untuk melakukan hal kecil yang seharusnya dilakukan lelaki, seperti membetulkan genteng bocor.Sungguh ironi..Muncul berbagai macam konfrensi, seminar, lembaga-lembaga yang memperjuangkan hak-hak perempuan, yang beragama feminis. Saking feminisnya ada pula, perempuan yang rela hidup sendiri sampai mati, untuk mendapatkan kebebasan seumur hidup. Tapi benarkah feminisme akan benar-benar memberikan kebebasan untuk para wanita?
Di lain sisi, saya yang terlalu takut menentang ajaran agama, meski sadar atau tidak saya juga pernah melanggarnya. Membuat saya, kadang berontak untuk mengikutinya. Tapi, agama memang tidak bisa dikompromikan. Wahyu Tuhan, yang katanya dosa bila kita menentang.
Saya tak ingin menetang Tuhan, tapi saya juga tak mau dinomorduakan. Saya ingin kesetaraan dalam definisi saya sendiri. Karena, laki-laki dan perempuan bukankah diciptakan untuk saling melengkapi. Dianugerahi kemampuan yang berbeda, punya tanggung jawab berbeda, hak, dan kewajiban berbeda. Sebenarnya mereka bergantung satu sama lain. Tidak bisa tidak. Yang menjadi pertanyaan saya, bisakah perempuan dan laki-laki berada pada level yang sama, untuk memberikan kebebasan pada perempuan tanpa mengesampingkan perintah agama.

