Koneksi Tersembunyi




Tak ada kata
Tak butuh dialog

Mata yang berbicara
Saling pandang menembus pintu terdalam ruang makna
Bukan suara yang bekerja
Namun sentuhan beraktivitas mengungkap rasa
Menyingkirkan rangkaian huruf-huruf
Menjadikan diri pengidap disleksia

Elektromagnet bereaksi menyatukan dua unsur berbeda
Memberdayakan daya tarik dua manusia
Lekat....
Semakin terekat
Terikat tak bisa lepas

Tak ada kata
Tak butuh dialog

Melihat tanpa mata
Mendengar tanpa telinga
Jiwa yang bertelepati menggantikan indra

Upayaku untuk tahu kamu
Dan upayamu untuk tahu diriku


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menggapai Bayang Ilusimu








Sangat hebat
Hampir sempurna
Sederhana namun bersahaja
Pancaran aura penuh kharisma
Membuat terkesima, terpana, dan akhirnya jatuh cinta
Pesona tiada tara
Gagah, lincah, kuat, tegap bercengkerama dengan 
kelembutan, kepedulian, serta ketampanan jiwa
Membuyarkan konsentrasi, meninggikan imajinasi


Hangat ketika dingin datang
Menyejukkan saat panas menerpa
Dualitas penuh keindahan
Terangkum dalam pribadi yang sulit diungkapkan

Semiotika kelakuan yang mengalihkan pandangan mata
Semakin menyedot perhatian pikiran
Menghipnotis raga untuk selalu bersama
Denganmu aku bertransformasi
menjadi apa yang aku ingini
Denganmu aku berjanji
menjalani perziarahan hati menuju level lebih tinggi


Sosokmu hanya ilusiku
Tapi kuyakin kau ada di sisiku

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Fenomena Takbiran 2009







Idul Fitri terasa tak lengkap sebelum melalui malam takbiran. Di malam ini, salah satu(dari sekian banyak malam), doa-doa manusia akan dikabulkan. Menjadi pra klimaks kemenangan. Menyambut hari kemenangan, bertakbir, keliling kampung membuat arak-arakan. Mewujudkan rasa syukur telah menjalani puasa selama 30 hari. Menjalani sekian hari yang penuh godaan, berperang terhadap haus dan lapar. Puasa dari segala nafsu serta buruknya perilaku. Indahnya Ramadhan tak akan pernah dapat tersaingi oleh 11 bulan yang lain. Berkah segala berkah melimpah ruah.

Saat siang beramai-ramai mencari bambu. Membersihkan batangnya dari serbuk-serbuk cokelat yang bisa membuat kulit gatal. Dipotong, disumbat kain perca, lalu diguyur sedikit minyak tanah di lubang yang tersumbat. Sensasi proses persiapan yang menggembirakan. Malamnya selesai shalat isya' bergegas mengambil potongan bambu itu. Berbaris rapi bersama teman-teman mendengar instruksi guru ngaji. Menyalakan satu obor dengan korek api. lalu mentransfer nyala-nyala itu dari satu obor ke obor lain.

Arak-arakkan dimulai. Berjalan rapi, mengucapkan takbir memuji Tuhan dengan suara lantang. Jika cahaya obor itu mati, kembali meminta nyala api dari obor lain yang masih menyala. Itulah suasana takbiran yang terjadi beberapa tahun lalu. Yang saya nikmati bersama kawan-kawan.

Saat saya menghabiskan malam takbiran bersama seorang teman untuk berkeliling kota. Rupanya suasana yang saya alami ketika kecil telah hilang. Memang, setiap kejadian tak pernah sama. Masih ada yang berarak, tapi tak seriuh dulu. Mungkin zaman yang telah mengubah pola aktivitas manusia. Teknologi yang memudahkan interaksi. Dan evolusi kultur juga terjadi pada kebiasaan takbiran yang terjadi setahun sekali itu. Jika dulu saya mendapat kesenangan bertakbir dengan upah kaki pegal, karena harus berjalan keliling kampung. Sekarang, kebiasaan yang membuat kaki pegal, sudah bisa dihentikan. Arak-arakan yang memadati jalan masih bisa ditemukan, tetapi tak sebanyak dulu.

Kini, mobil-mobil pick up terisi manusia. Atau truk-truk besar yang biasa mengangkut pasir, batu, atau benda-benda mati lainnya. Dipenuhi manusia yang meneriakkan takbir. Yah, itulah fenomena takbiran masa kini. Bukan lagi kaki sebagai alat transportasi untuk berpawai. Tapi mesin-mesin pengkonsumsi bensin yang menggantikan. Suara beduk pun tak seramai dulu, digantikan dengan drum bekas minyak sebagai lalat musik. Bahkan ada pula kelompok takbir yang rela menggunakan drum ala Gilang Ramadhan sebagai subtitusi beduk. Serasa melihat konser musik keliling. Membuat saya takjub.

Iring-iringan kendaraan bagai pawai suporter sepak bola. Tak ada lagi obor yang di bawa. Speaker pengeras suara menjadi pelengkap, memamerkan bunyi pukulan-pukulan drum. Ramai. Tapi keramaian yang berbeda. Keramaian takbir ala pesta musik. Bukan perayaan takbir yang dihiasi paduan suara-suara merdu ucapan Allahhuakbar. Ucapan yang menyejukkan hati.

Perubahan budaya semoga tak mengubah esensi malam takbir




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Patriarkal VS Matriarkal






Saya teringat pelajaran Antropologi saat SMA kelas 3, tentang sistem kekeluargaan. Waktu itu, Antropologi menjadi mata pelajaran favorit setelah sejarah dan tata negara, karena saya bisa tahu lebih dalam tentang budaya masyarakat. Tidak tahu kenapa beberapa hari ini saya tertarik untuk kembali mengingat-ingat sub mata pelajaran itu.



Patriarkal adalah sistem kekeluargaan di mana garis keturunan laki-laki(ayah), sebaliknya dengan matriarkal, lebih condong ke garis keturunan ibu. Mungkin itu definisi sederhananya. Saya semakin tertarik, karena saya lahir dan hidup di Jawa, yang menganut paham patriarki. Saya juga harus ingat bahwa nenek saya keturunan Padang, yang terikat pada budaya matriarki. Budaya Jawa yang super halus, karena saya tinggal di Solo dan mengharuskan saya mengikutinya, terkadang cukup menyulitkan. Sikap, tingkah laku, tutur kata, dan segala macam perbuatan harus benar-benar mencerminkan Soloisme. Didikan orang tua, ayah, yang paling saya ingat sampai sekarang, kalau perempuan dilarang tertawa keras-keras, saru(tidak pantas-red), katanya. Sebisa mungkin senyum atau tertawa dengan menutup mulut, saat tertawa. Bayangkan, bukannya tertawa itu aktivitas spontan. 


Peristiwa yang mencerminkan Soloisme terutama patriarkal, bagi saya, adalah, kebiasaan menyiapkan sarapan atau teh untuk suami. Sebenarnya bukan sesuatu yang istimewa, sebab sudah menjadi kewajiban bila istri melayani suami.   Dari urusan tempat tidur, dapur, bahkan hal terkecil seperti tea time. Tapi membuat saya tergelitik, acara tea time ini sangat jarang terjadi di keluarga saya. Di mana, ibu harus selalu menyiapkan segelas teh hangat untuk bapak. Malah, hal terkadang ayah membuatkan teh untuk ibu bahkan saya, dan juga adik. Bukan bermaksud untuk memutarbalikkan peran, tapi ayah ikhlas melakukan hal ini. 
Di keluarga pakdhe, saya melihat setiap pagi budhe harus menyiapkan segelas teh hangat ditambah cemilan, sebagai kudapan pagi untuk suami tercintanya. Pernah suatu saat, saya mengetahui kalau budhe tidak melakukan kebiasaan tersebut. Alhasil, terjadi pertengkaran kecil, pakdhe marah sama budhe saya. Mengingat kejadian ini, saya selalu tersenyum.


Ibu saya bukanlah murni orang Padang, karena beliau dapat blasteran Jawa. Kakek saya, seorang militer asal Jawa yang bertemu dengan nenek di Aceh ketika zaman perjuangan dulu. Yah, itu cerita yang saya dengar, seperti dongeng saja.
Ibu lahir di Jawa, sama seperti saya. Meskipun begitu, ibu sempat tinggal di Padang dalam waktu yang cukup lama, sehingga budaya Minang tidak pernah hilang dari ingatannya. Sampai sekarang, sering sekali beliau mentransfer budaya itu pada saya dan adik. Ibu pun sering bercerita mengenai sanak saudara dan  keluarga yang menetap di sana. Tentang keluarga mandeh(budhe dalam bahasa Padang), etek(bulik ), dan hal-hal lain yang berbau Minang dan ke-Padang-Padang-an. Darah Padang saya tidak terlalu banyak, tetapi didikan menjadi seorang Padang bisa dikatakan bersaing dengan asuhan Jawaisme. Jika ada waktu bersama ibu menonton teve, selalu ada saja bahan mata kuliah Minang yang harus saya dengarkan. Terkadang sub mata kuliah, sudah pernah diajarkan di pertemuan sebelumnya, tapi selalu diulang-ulang. Uff..


Di sisi lain, ayah saya juga melakukan hal yang sama. dan yang pasti, tentang Jawaisme. Namun, intensitasnya tidak sebanyak yang ibu lakukan. Bisa dikatakan 20% melawan 80 %. Nah, patriarki vs matriarki. Mana, yang harus saya anut.


Persaingan tidak hanya selesai sampai di situ. karena kompetisi sebenarnya ada di dunia luar. Ketika feminisme muncul memperjuangkan hak wanita. Sebuah gerakan pembebasan perempuan untuk mengeksistensikan dirinya. Tidak mau dinomorduakan setelah laki-laki.. tidak ingin dikekang oleh ikatan patriarki... "bebas".. Muncul istilah gender yang diartikan sebagai konstruksi sosial bagi perempuan dan laki-laki khususnya pembedaan tanggung jawab. Dengan begitu, diperlihatkan secara jelas bahwa gender berkaitan dengan ketidakadilan sosial tentang jenis kelamin, kecuali mengenai hal-hal yang bersifat biologis. 
Gender mengotak-kotakkan apa yang bisa dilakukan wanita, apa yang tak boleh. Pria memiliki tugas dan peran sebagai pemimpin rumah tangga. Berangkat mencari nafkah, pulang, lelah, dan dilayani. Perempuan, ada di rumah, bersama anak, dan mengurus dapur. Akan tetapi, perkembangan zaman, terutama tuntutan ekonomi, membuat wanita berani melangkahkan kaki ke luar rumah. Sekarang ini, perempuan semakin menujukkan bahwa mereka bisa menjadi apa yang lelaki bisa dalam karir dan finansial. 


Mungkin ini, mengenai persamaan hak  di mana wanita dan pria dapat memasuki dunia yang sama. Pria bekerja, wanita pun bisa, Pria jadi kepala rumah tangga, wanita juga bisa melakukannya. Tapi, bagi saya wanita dan pria kan memang beda, kenapa harus disama-samakan?!. 


Persaingan Patriarki vs Matriarki semakin memanas ketika agama menjadi minyak penyulut kobaran pertarungan. Seolah-olah menjadi feminisme vs agama. Dalam keyakinan saya, istri memang harus "tunduk" pada suami. Wanita harus patuh pada suaminya, untuk apapun selama tak melanggar perintah Tuhan ku. Disebutkan pula dalam sebuah hadist, HR Ahmad dan Ibnu Majah, Dari Aisyah ra, sesungguhnya Nabi SAW, bersabda " Sekira-kira aku memerintahkan seseorang bersujud kepada orang lain, niscaya aku akan perintahkan seorang istri bersujud kepada suaminya. Sekiranya seorang suami menyuruh istri-istrinya memindahkan bukit merah ke bukit putih dan dari bukit putih ke bukit merah, tentu kewajibannya ialah melaksanakan (perintahnya) itu."


Sungguh dasyatnya kutipan hadist itu, yang membuat saya semakin terpana bahwa seorang pria memiliki kekuatan besar untuk "menggengam" perempuan. Sistem patriarki, mau tak mau, yang berjalan. Dan di keyakinan manapun juga menyatakan hal yang sama, dengan bukti kemunculan feminisme yang diawali di dunia barat, di mana mayoritas penduduknya beragama Yahudi, Khatolik dlsb. 


Kemudian Nabi ku pernah bersabda, ".....Sesungguhnya seandainya aku(boleh) menyuruh seseorang sujud kepada selain Allah, tentu akan aku suruh perempuan sujud kepada suaminya. demi Dzat yang diri Muhammad dalam kekuasaan-Nya, tidaklah seorang perempuan menunaikan hak Tuhannya, sehingga ia menunaikan hak suaminya, dan seandainya suaminya menghendaki dirinya, sedang ia di atas kendaraan, maka tidak boleh ia menolaknya."


Semakin terpatri dalam pikiran saya, bahwa memang patriarki yang dianut agama saya. 


Feminisme muncul, ketika para perempuan lelah dengan apa yang menurut pencipta istilah itu mengalami ketertindasan. Tidak bisa melakukan ini, dianggap tak mampu untuk itu, seperti yang umumnya dilakukan para lelaki. Sebagian perempuan(yang berpaham feminis) menginginkan kesetaraan, keadilan, dan perlakuan yang sama. Mereka juga bisa bekerja, menghasilkan uang, mendidik anak, bahkan katanya perempuan kadang-kadang lebih bisa diandalkan untuk melakukan hal kecil yang seharusnya dilakukan lelaki, seperti membetulkan genteng bocor.Sungguh ironi..Muncul berbagai macam konfrensi, seminar, lembaga-lembaga yang memperjuangkan hak-hak perempuan, yang beragama feminis. Saking feminisnya ada pula, perempuan yang rela hidup sendiri sampai mati, untuk mendapatkan kebebasan seumur hidup. Tapi benarkah feminisme akan benar-benar memberikan kebebasan untuk para wanita? 


Di lain sisi, saya yang terlalu takut menentang ajaran agama, meski sadar atau tidak saya juga pernah melanggarnya. Membuat saya, kadang berontak untuk mengikutinya. Tapi, agama memang tidak bisa dikompromikan. Wahyu Tuhan, yang katanya dosa bila kita menentang.


Saya tak ingin menetang Tuhan, tapi saya juga tak mau dinomorduakan. Saya ingin kesetaraan dalam definisi saya sendiri. Karena, laki-laki dan perempuan bukankah diciptakan untuk saling melengkapi. Dianugerahi kemampuan yang berbeda, punya tanggung jawab berbeda, hak, dan kewajiban berbeda. Sebenarnya mereka bergantung satu sama lain. Tidak bisa tidak. Yang menjadi pertanyaan saya, bisakah perempuan dan laki-laki berada pada level yang sama, untuk memberikan kebebasan pada perempuan tanpa mengesampingkan perintah agama. 




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS